Indonesia kini menjadi raja minyak kelapa sawit dunia, lebih dari 47 juta ton minyak kelapa sawit dihasilkan pada tahun 2023, di balik prestasi ini lebih dari 16,2 juta orang bergantung pada sawit. Di sinilah dilema dimulai karena pertumbuhan sawit yang pesat membawa konsekuensi buruk, sawit dianggap sebagai perusak lingkungan.
Menurut data dari Internasional Union For Conservation of Nature (IUCN) dalam 20 tahun terakhir rata-rata 32,000 sampai 100,000 hektare hutan tropis hilang setiap tahunnya akibat ekspansi perkebunan kelapa sawit, dan 193 spesies terancam punah akibat dari perkebunan kelapa sawit, termasuk 750 sampai 1,250 orangutan yang mati setiap tahunnya, memicu tergerusnya keanekaragaman hayati dan turut mendorong terjadinya perubahan iklim global.
SEJARAH
HILIRISASI KELAPA SAWIT
Hilirisasi kelapa sawit hampir mencapai angka 200 produk untuk bahan utama kebutuhan sehari-hari manusia yang paling umum dibagi menjadi 4 klarifikasi :
1. Oleo Food, terdiri dari (Minyak Goreng, Margarin, Coklat)
2. Oleo Kimia, terdiri dari (Sabun, Shampo, Kosmetik)
3. Biofuel, terdiri dari (Biodiesel, Bensin, Avtur Sawit, Biomassa)
4. Oleo Farma, terdiri dari (Obat-obatan, Suplemen)
DAMPAK MASYAKAT LOKAL
Selain pengembangan produk turunan dari kelapa sawit terdapat juga upaya pengembangan ekonomi keluarga yang melibatkan masyarakat lokal melalui kerajinan tangan dari sisa pelepah kelapa sawit. Kehidupan masyarakat di kebun sawit bertransformasi, masyarakat lokal bisa menikmati hasil dari praktik sawit yang bekelanjutan.
Aspek dari kesesuaian kelapa sawit bermacam-macam bukan hanya dari satu aspek, harus dari aspek ekonomi, bisnis, sosial, dan lingkungan. Sawit berkontribusi kepada lingkungan tapi bila tidak dikelola dengan baik bisa berdampak negatif pada lingkungan, dan pentingnya inovasi perkelolaan kelapa sawit, menurut Dr. Ir. Tungkot Sipayung (2024).
Masyakat terlanjur beradaptasi dan bergantung pada sawit, lantas dengan ketergantungan sebesar ini, apakah kita bisa hidup tanpa sawit? untuk saat ini tidak ada yang bisa mengganti sawit, tapi persoalannya adalah bagaimana kita supaya dalam menghasilkan minyak sawit kedepan semakin berkembang dan semakin diperhatikan.
Faktanya kita bergantung pada sawit lebih dari yang kita sadari, namun tanpa praktik bekelanjutan dampaknya bisa menghancurkan. Mungkin, bukan soal menghapus sawit, melainkan mengelola dengan cara yang lebih bijak. Kelapa sawit memang kontroversial, tapi apakah kita siap hidup tanpanya?
Komentar
Posting Komentar